10 Nama Pahlawan Di Indonesia
10 Nama Pahlawan Di Indonesia
Perang Diponegoro menelan banyak korban dan tercatat sebagai perang dengan korban terbanyak sepanjang sejarah perang Indonesia. Dan pada tahun 1830, Diponegoro ditangkap lalu dibuang di Manado. Hingga pada akhirnya meninggal di Ujung Pandang pada tanggal 8 Januari 1985.merupakan seorang garwa ampeyan (selir) bernama R.A. Mangkarawati yang berasal dari Pacitan.
1. Ir. Soekarno
a). Asal usul
Lahir: Koesno Sosrodihardjo 6 Juni 1901 Soerabaja, Oost Java, Hindia Belanda (sekarang Surabaya, Jawa Timur, Indonesia).
Meninggal: 21 Juni 1970 (umur 69) WismaYaso, Jakarta, Indonesia.
Istri:
Oetari (1921–1923)
Inggit Garnasih (1923–1943)
Fatmawati (1943–1970)
Hartini (1953–1970)
Kartini Manoppo (1959–1968)
Saliku Maesaroh (1958–1959)
Ratna Sari Dewi (1962–1970)
Haryati (1963–1966)
Yurike Sanger (1964–1968)
Heldy Djafar (1966–1969)
Anak:
Dari Inggit
Ratna Juami (anak angkat)
Kartika (anak angkat)
Dari Fatmawati
Guntur Soekarnoputra
Megawati Soekarnoputri
Rachmawati Soekarnoputri
Sukmawati Soekarnoputri
Guruh Soekarnoputra
Dari Hartini
Taufan Soekarnoputra
Bayu Soekarnoputra
Dari Ratna
Karina Kartika Sari Dewi Soekarno
Dari Haryati
Ayu Gembirowati
Dari Kartini Manoppo
Totok Suryawan Soekarnoputra
Orang tua
Soekemi Sosrodihardjo
Ida Ayu Nyoman Rai
Profesi
Insinyur
Politikus
Guru
b). Daerah
Paneleh Surabaya
c). Deskripsi
Pada 4 Juli 1927, Seokarno merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia). Tujuannya didirikannya partai tersebut adalah agar Indonesia merdeka. Mengetahui itu, pada 29 Desember 1929, Belanda memasukkannya ke penjara Sukamiskin, Bandung. Soekarno disidangkan setalah delapan bulan di penjara. Dalam pidato pembelaannya yang berjudul “Indonesia Menggugat”, Seokarno menggambarkan kondisi politik Internasional dan keadaan rakyat Indonesia di bawah belenggu kolonialisme. Pembelaannya tersebut membuat Belanda semakin marah.Belanda kemudian membubarkan PNI pada Juli 1930.Belanda kemudian membubarkan PNI pada Juli 1930. Pada tahun 1931, Soekarno dibebaskan dan bergabung serta memimpin Partindo. Hal tersebut diketahui oleh Belanda dan Soekarno kembali ditangkap. Pada tahun 1933, Soekarno diasingkan ke Ende, Flores. Lalu empat tahun kemudian, ia dipindah ke Bengkulu. Setelah perjuangan yang panjang, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Kemudian pada 18 Agustus 1945, Ir. Soekarno terpilih secara aklamasi sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama. Akan tetapi, sebelumnya, Soekarno berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Soekarno juga berusaha enghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955. Kemudian gerakan tersebut berkembang menjadi Gerakan Non Blok.Sementara itu, kesehatan Soekarno semakin memburuk. Pada Minggu, 21 Juni 1970 ia meninggal dunia di RSPAD. Lalu Soekarno disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta. Setalah itu ia dimakamkan di Blitar, Jatim tepatnya di dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai.
2. Tuanku Imam Bonjol
a). Asal usul
Lahir: Muhammad Shahab, yang lahir di Bonjol pada 1 Januari 1772.
Meninggal: Di Minahasa ia meninggal dunia pada 18 November 1864 saat usia 92 tahun.
Kebangsaan: Indonesia
Anak: Naali Sutan Caniago, Sutan Saidi
Dimakamkan: Makam Pahlawan Tuanku Imam Bonjol Lotta Pineleng Minahasa Sulawesi Utara
Orang tua: Khatib Bayanudin, Hamatun
Penghargaan : Pahlawan Nasional Indonesia SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973
Istrinya : Hamatun
b). Daerah
Tuanku Imam Bonjol berasal dari Pasaman, Sumatera Barat, Indonesia.
c). Deskripsi kepahlawanan
Tuanku Imam Bonjol atau yang bernama asli Muhammad Syahab lahir di Bonjol, Sumatera Barat, 1 Januari 1772. Saat tumbuh dewasa, Bonjol telah mempelajari ilmu Islam dari ayahnya. Setelah menjadi seorang ulama, Bonjol memperoleh beberapa gelar, seperti Peto Syarif, Malin Basa, dan Tuanku Imam. Oleh sebab itu, ia akhirnya lebih dikenal dengan panggilan Tuanku Imam Bonjol.
- Perang Padri
Setelah menjadi pemimpin Padri, ia pun mulai terlibat ke dalam beberapa kontroversi Adat-Padri. Pada 1803, terdapat tiga orang haji yang kembali dari Mekah ke Indonesia. Mereka adalah Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang. Mereka ingin memperbaiki syariat Islam yang belum sempurna yang dijalankan oleh masyarakat Minangkabau. Pada 1833, peperangan mulai berubah, yang tadinya antara Kaum Adat dan Kaum Padri, sekarang kedua kaum ini justru bekerja sama melawan belanda. Bersatunya Kaum Adat dan Kaum Padri ini dimulai dengan adanya kompromi yang dikenal dengan nama Plakat Puncak Pato di Tabek Patah. Penyerangan serta pengepungan benteng Kaum Padri oleh Belanda terjadi selama sekitar enam bulan, dipimpin oleh jenderal dan para perwira Belanda. Imam Bonjol kemudian dibuang ke Cianjur, Jawa Barat. Lalu, ia dipindahkan ke Ambon dan akhirnya ke Lotta, Minahasa, dekat Manado. Di tempat terakhir inilah ia meninggal dunia pada 8 November 1864. Tuanku Imam Bonjol disemayamkan di tempat pengasingannya tersebut.
3. Cut Nyak Dhien
Lahir: 12 Mei 1848, Kabupaten Aceh Besar
Meninggal: 6 November 1908, Sumedang
Pasangan: Teuku Umar(m. 1880–1899),Teuku Ibrahim Lam nga m. 1862–1878)
Anak: Cut Gambang
Orang tua: Teuku Nanta Seutia
Kebangsaan: Indonesia
b). Daerah
Cut Nyak Dhien berasal dari daerah Lampadang, kerajaan Aceh.
c). Deskripsi
Cut Nyak Dhien dilahirkan dari keluarga bangsawan yang taat beragama di Aceh Besar, wilayah VI Mukim pada tahun 1848. Pada masa kecilnya, Cut Nyak Dhien adalah anak yang cantik. Ia memperoleh pendidikan pada bidang agama (yang dididik oleh orang tua ataupun guru agama) dan rumah tangga (memasak, melayani suami, dan yang menyangkut kehidupan sehari-hari yang dididik baik oleh orang tuanya). Pada tanggal 26 Maret 1873, Belanda menyatakan perang kepada Aceh, dan mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen. Perang Aceh pun meletus. Pada perang pertama (1873-1874). Perang dilanjutkan secara gerilya dan dikobarkan perang fi'sabilillah. Sekitar tahun 1875, Teuku Umar melakukan gerakan dengan mendekati Belanda dan hubungannya dengan orang Belanda semakin kuat. Pada tanggal 30 September 1893, Teuku Umar dan pasukannya yang berjumlah 250 orang pergi ke Kutaraja dan "menyerahkan diri" kepada Belanda. Cut Nyak Dien lalu memimpin perlawanan melawan Belanda di daerah pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya dan mencoba melupakan suaminya. Pasukan ini terus bertempur sampai kehancurannya pada tahun 1901. Belanda menyerang markas Cut Nyak Dien di Beutong Le Sageu. Mereka terkejut dan bertempur mati-matian. Dhien berusaha mengambil rencong dan mencoba untuk melawan musuh. Namun, aksi Dhien berhasil dihentikan oleh Belanda. Cut Nyak Dhien ditangkap, sementara Cut Gambang berhasil melarikan diri ke hutan dan meneruskan perlawanan yang sudah dilakukan oleh ayah dan ibunya. Setelah ditangkap, Cut Nyak Dhien dibawa ke Banda Aceh dan dirawat di situ. Penyakitnya seperti rabun dan encok berangsur-angsur sembuh. Namun, Cut Nyak Dien akhirnya dibuang ke Sumedang, Jawa Barat. Dia di tahan bersama ulama bernama Ilyas yang segera menyadari bahwa Cut Nyak Dhien merupakan ahli dalam agama Islam, sehingga ia dijuluki sebagai "Ibu Perbu". Pada tanggal 6 November 1908, "Ibu Perbu" meninggal karena usianya yang sudah tua. Makam "Ibu Perbu" baru ditemukan pada tahun 1959 berdasarkan permintaan Gubernur Aceh saat itu, Ali Hasan.
4. Pangeran Diponegoro
a). Asal Usul
lahir: Yogyakarta pada 11 November 1785.
Ibu: merupakan seorang garwa ampeyan (selir) bernama R.A. Mangkarawati yang berasal dari Pacitan.
Ayah: bernama Gusti Raden Mas Suraja, yang di kemudian hari naik takhta bergelar Hamengkubuwana III.
Ketika dilahirkan, Diponegoro diberi nama Bendara Raden Mas Mustahar, kemudian diubah menjadi Bendara Raden Mas Antawirya. Nama Islamnya adalah Abdul Hamid. Setelah ayahnya naik takhta, Antawirya diwisuda sebagai pangeran dengan nama Bendara Pangeran Harya Dipanegara.
• Deskripsi kepahlawanan:
Pangeran Diponegoro juga dikenal dengan nama Raden Mas Ontowiryo, ia lahir di D.I Yogyakarta pada 11 November 1785. Beliau merupakan anak sulung dari Sultan Hamengkubuwono III yang kenal sejak Perang Diponegoro pada 1825 sampai 1830.
5. Sultan Hasanuddin
a). Asal Usul
lahir:12 Januari 1631 Gowa, Kesultanan Gowa
Meninggal:12 Juni 1670 (umur 39) Gowa, Hindia Belanda
Ayah:Sultan Malikussaid
Ibu:I Sabbe Lokmo Daeng Takontu
Anak:Sultan Amir Hamzah, Sultan Muhammad Ali, Sultan Abdul Jalil, Karaeng Galesong
b). Daerah
Makassar
c). Deskripsi Pahlawan
Pahlawan nasional satu ini memiliki julukan "Ayam Jantan dari Timur". Dia adalah Pahlawan Nasional asal Sulawesi Selatan, dan merupakan putra kedua dari Sultan Malikussaid. Beliau lahir di Makassar, 12 Januari 1631.
Sultan Hasanuddin berusaha menggabungkan beberapa kerajaan kecil di wilayah Indonesia Timur dan membuat perlawanannya dengan Belanda semakin memanas.
Hal ini yang akhirnya membuat Belanda meminta bantuan ke Batavia untuk menaklukkan Somba Opu, yaitu benteng terkuat di Gowa pada 12 Juni 1669. Pada 12 Juni 1670 Sultan Hasanuddin pun wafat.
6. Kapten Pattimura
a). Asal-usul
-Kelahiran: 8 Juni 1783, Haria
- Meninggal: 16 Desember 1817, Benteng Nieuw Victoria, Teluk Ambon
- Nama lengkap: Thomas Matulessy
- Kebangsaan: Indonesia
- Saudara kandung: Yohannes Matulessy
- Julukan: Kapitan Pattimura
- Orang tua: Frans Matulessia, Fransina Tilahoi
b). Daerah
Maluku
c). Deskripsi kepahlawanan
Kapten Pattimura atau yang biasa dikenal Thomas Matulessy lahir di Ambon pada tahun 1763. Pattimura melawan Belanda yang berusaha menguasai Maluku dengan menindas, memaksa kerja rodi, dan menguras kekayaan Maluku.
Selanjutnya, pada tahun 1817 ia berhasil menyatukan Kerajaan Tidore dan ternate untuk mengusir penjajah di daerah tersebut. Sebenarnya, Belanda sempat menawarkan kerja sama, tetapi Pattimura menolaknya. Hingga akhirnya ia diberi hukuman mati pada 16 Desember 1817.
7. Dewi Sartika
a). Asal Usul
Raden Dewi Sartika adalah seorang advokat dan tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita. Ia juga merupakan salah satu tokoh perempuan Indonesia paling terkenal. Ia diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1966.
-Kelahiran: 4 Desember 1884, Kecamatan Cicalengka
- Meninggal: 11 September 1947, Kota Tasikmalaya
- Pendidikan: Europeesche Lagere School
- Pasangan: R. Kd. Agah Suriawinata (m. 1906)
- Orang tua: Raden Ayu Rajapermas, Raden Rangga Somanagara
- Kebangsaan: Indonesia
- Penghargaan: Orde Oranye-Nassau
b). Daerah
Jawa Barat
c).Deskripsi kepahlawanan
Selain Kartini, Pahlawan Nasional perempuan selanjutnya ialah Dewi Sartika. Ia lahir pada 4 Desember 1884 di Cicalengka dan memiliki latar belakang keluarga ningrat. Hal inilah yang akhirnya membuat ia terinspirasi mendirikan Sekolah Istri atau Sekolah Khusus Perempuan Hindia Belanda. Berkat kegigihannya, Dewi Sartika mendapat Bintang perak dari Pemerintah Belanda pada masa itu. Namun, pada saat perang kemerdekaan ia diungsikan ke Cineam, Tasikmalaya dan wafat pada September 1947.
8. Pangeran Antasari (Kayu Mangi Martapura)
a). Asal Usul
Pangeran Antasari adalah seorang pemimpin dan tokoh penting dalam Perang Banjar. Sebagai Sultan Banjar, pada 14 Maret 1862, dia dinobatkan sebagai pimpinan pemerintahan tertinggi di Kesultanan Banjar
Kelahiran: 1797, Kayu Tangi
Meninggal: 11 Oktober 1862, Kalimantan
Orang tua: Sunan Nata Alam, Tahmidullah, Muhammad dari Banjar, Tamjidillah I, lainnya
Anak: Muhammad Seman, Panembahan Muhammad Said, lainnya
Cucu: Ratu Zaleha, Pangeran Perbatasari, Goesti Mohamad Arsat, Pangeran Banjarmas, lainnya
Kebangsaan: Indonesia
Beliau adalah Pahlawan nasional Indonesia yang memimpin perlawanan melawan pemerintah kolonial Belanda di Kalimantan Selatan pada pertengahan abad ke-19. Ia memimpin pemberontakan melawan sistem pajak yang memberatkan rakyat setempat dan mengajukan perlawanan bersenjata. Meskipun perjuangan Pangeran Antasari tidak berhasil menghentikan penjajahan Belanda, ia dianggap sebagai pahlawan yang memberikan inspirasi dan semangat perlawanan bagi generasi selanjutnya. Pada tahun 1961, Pangeran Antasari diumumkan sebagai pahlawan nasional Indonesia.
9. Cut Meutia
a). Asal-usul
Tjoet Nyak Meutia adalah pahlawan nasional Indonesia dari daerah Aceh. Ia dimakamkan di Alue Kurieng, Aceh. Ia menjadi pahlawan nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 107/1964 pada tahun 1964.
- Kelahiran: 15 Februari 1870, Kesultanan Aceh
- Meninggal: 24 Oktober 1910, Aceh
- Anak: Teuku Raja Sabi
- Orang tua: Teuku Ben Daud Pirak, Cut Jah
- Kebangsaan: Indonesia
- Pasangan: Pang Nanggroe, Teuku Muhammad
- Saudara kandung: Cut Beurahim, Teuku Muhammad Ali, Teuku Muhammadsyah, Teuku Cut Hasan, dan
Teuku Muhammad Ali.
b). Daerah
Aceh
c). Deskripsi kepahlawanan
Perempuan bernama lengkap Cut Nyak Meutia ini lahir di Perlak, Aceh pada tahun 1870. Ia merupakan seorang panglima Aceh saat melawan Belanda. Bersama suaminya, ia menyerang pusat patroli Belanda di daerah pedalaman Aceh. Ia pun terus melanjutkan perjuangan melawan Belanda, hingga akhirnya meninggal dunia pada tahun 1910.
10. Jendral Ahmad Yani
a). Asal Usul
Jenderal TNI Ahmad Yani; adalah Menteri/Panglima Angkatan Darat yang merupakan salah satu Pahlawan Revolusi yang gugur sebagai korban tragedi Gerakan 30 September karena dibunuh dalam Gerakan 30 September saat penculikan dari rumahnya. Wikipedia
Kelahiran: 19 Juni 1922, Kabupaten Purworejo
Meninggal: 1 Oktober 1965, Jakarta
Anak: Amelia Achmad Yani
Orang tua: Sarjo bin Suharyo, Murtini
Pasangan: Yayu Rulia Sutowiryo (m. 1944–1965)
Tempat pemakaman: Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta
Jabatan sebelumnya: Minister / Commander of the Army of Indonesia (1962–1965)
b). Daerah
Purworejo
c). Deskripsi Kepahlawanan
Setelah Kemerdekaan Indonesia, Yani bergabung dengan tentara republik yang baru terbentuk untuk berjuang melawan Belanda yang membonceng sekutu. Selama bulan-bulan pertama setelah Proklamasi Kemerdekaan, Yani memimpin batalion tentara dan menang dalam pertempuran melawan tentara Inggris di Magelang.